h1

Model Pembelajaran Creative Problem Solving dengan Video Compact Disk dalam Pembelajaran Matematika

29/01/2009

segitiga-pythagoras

Abstrak

Matematika adalah mata pelajaran yang diajarkan dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan menengah. Selain mempunyai sifat yang abstrak, pemahaman konsep matematika yang baik sangatlah penting karena untuk memahami konsep yang baru diperlukan prasarat pemahaman konsep sebelumnya.

Baca entri selengkapnya »

h1

Penerapan Model Pembelajaran Tematik Pada Mata Pelajaran Matematika Terpadu

16/06/2009

A. Pendahuluan

Peserta didik kelas I, II, dan III merupakan subjek yang perlu mendapatkan perhatian sejak dini. Usia mereka berada pada rentangan usia enam sampai dengan sembilan tahun. Pada fase usia ini hampir seluruh aspek perkembangan kecerdasan, misalnya IQ, EQ, dan SQ sedang bertumbuh dan berkembang. Biasanya tingkat perkembangan pada anak tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh (holistik) dan hanya mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Begitu pula dalam proses pembelajaran, umumnya mereka masih bergantung pada objek-objek yang bersifat konkret dan pengalaman yang dialaminya secara langsung (secara empiris).
baca selengkapnya

h1

Action Research/ Penelitian Tindakan

16/06/2009

Definisi

Action research atau penelitian tindakan merupakan salah satu bentuk rancangan penelitian, dalam penelitian tindakan peneliti mendeskripsikan, menginterpretasi dan menjelaskan suatu situasi sosial pada waktu yang bersamaan dengan melakukan perubahan atau intervensi dengan tujuan perbaikan atau partisipasi. Action research dalam pandangan tradisional adalah suatu kerangka penelitian pemecahan masalah, dimana terjadi kolaborasi antara peneliti dengan client dalam mencapai tujuan (Kurt Lewin,1973 disitasi Sulaksana,2004), sedangkan pendapat Davison, Martinsons & Kock (2004), menyebutkan penelitian tindakan, sebagai sebuah metode penelitian, didirikan atas asumsi bahwa teori dan praktik dapat secara tertutup diintegrasikan dengan pembelajaran dari hasil intervensi yang direncanakan setelah diagnosis yang rinci terhadap konteks masalahnya.
baca selanjutnya

h1

Tripel Pythagoras

24/04/2009

Oleh: Hendra Gunawan, dosen Matematika ITB

tripelTRIPEL Pythagoras adalah tripel bilangan bulat positif a, b, dan c yang memenuhi persamaan a2 + b2 = c2. Contoh tripel Pythagoras yang paling sederhana adalah 3, 4, dan 5, atau 5, 12, dan 13, sebagaimana sering dibahas di SLTP.Pythagoras adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani kuno yang lahir sekitar tahun 580 SM. Nama tripel Pythagoras diberikan karena Pythagoras, atau setidaknya para muridnya, diyakini sebagai orang yang pertama kali membuktikan bahwa persamaan a2 + b2 = c2 sesungguhnya berlaku secara umum pada sembarang segitiga siku-siku dengan sisi-sisi tegak a dan b dan sisi miring c (di sini a, b, dan c tidak harus merupakan bilangan bulat, tetapi sembarang bilangan real positif). Dalil ini pun kemudian dikenal sebagai Dalil Pythagoras.

Namun, sesungguhnya, tripel Pythagoras sudah dikenal oleh orang Babylonia sejak tahun 1600 SM. Pengetahuan tentang tripel Pythagoras diperlukan, misalnya, dalam tukar-menukar (barter) tanah pada zaman itu. Seseorang yang mempunyai sebidang tanah berukuran 50 x 50 meter persegi, misalnya, dapat menukarnya dengan dua bidang tanah berukuran 30 x 30 dan 40 x 40 meter persegi.

baca selengkapnya

h1

Tugas Telaah Kurikulum Matematika3

15/04/2009

Pilihlah dua soal dari masing-masing materi, dan dari soal-soal yang anda pilih minimal terdapat dua soal yang berbahasa Inggris. Untuk download soal tersedia di sini.

h1

Pembelajaran Matematika Dengan Teori Belajar Konstruktivisme

27/02/2009

Teori belajar konstruktivisme memandang anak sebagai mahluk yang aktif dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Guru, yang dipandang sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, seyogianya mengetahui tingkat kesiapan anak untuk menerima pelajaran, termasuk memilih metode yang tepat dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika, guru seharusnya mengetahui hakikat matematika itu sendiri, hakikat anak, dan cara mengajarkan matematika menurut teori yang diterapkan. Guru yang tidak mengetahui ketiga hal tersebut di atas bagaikan tidak mempunyai dasar dan tujuan yang jelas dalam mengajar. Akibatnya, anak dapat diarahkan ke mana arah tujuan pembelajaran matematika yang dikehendaki guru.
Baca entri selengkapnya »

h1

10 PERINTAH MENGAJAR GEORGE POLYA

20/02/2009

Ditulis oleh Asep Sapa’at, S. Pd
Teachers Guide, V.02.03. Edisi Juni 2007

polyaIngat nama George Polya, matematikawan Hongaria (1887 – 1985), bapak “pemecahan masalah”? Ph. D. dari Universitiy of Budapest, ini fenomenal: menulis 250 makalah dan 3 buku, umumnya tentang ‘pemecahan masalah’. Bukunya “How to Solve It” laris manis, dialihbahasakan ke-15 bahasa. Yang menarik di sini, Polya mewariskan “Sepuluh Perintah untuk Mengajar (Ten Commandment for Teachers). Saya ingin berefleksi atas sepuluh prinsip Polya itu, terutama terhadap apa yang saya rasakan sebagai guru matematika di Bandung.

Baca entri selengkapnya

h1

Creative Problem Solving in Math

20/02/2009

By K.L. Pepkin

One Friday, a professor gave a take home test to his students. It consisted of three math problems. He explained that the first two problems were very difficult, but the third had never been solved and it was for extra credit. To get credit for the third problem, a student would not have to get a solution, but show evidence of good thought processes.

Shortly thereafter, one of his students entered the class. Since he was late, he copied the assignment off the board and received no further instruction or explanation.

This student, whose grades were marginal, worked diligently all weekend, in an attempt to raise his average. With much effort he solved the first two problems and with extreme effort he solved the third. He brought his assignment to his teacher that Monday and told him that he must need tutoring because solving all three problems took him all weekend. The amazed teacher explained the enormity of the student’s accomplishment to him as well as to the whole class.
Baca entri selengkapnya »